Diantara Gemulung Ombak

tampomas

Pagi itu kapal dagang Samudra Raya baru saja mengangkat sauh dari pelabuhan Tanjung Mas Semarang menuju pelabuhan Telukbayur Padang. Kapal ini penuh dengan muatan. Ada beras, gula, kopi, tepung, kopra, semen dan lain-lain. Semakin kapal menengah, ombak laut Jawa semakin besar. Nakhoda kapal, Samsuri, yang ditemani oleh asistennya Budianto, sedang memegang kemudi. Kapal diarahkan ke arah barat dengan kecepatan tinggi. Air laut nampak terlihat berkelap-kelip menyilaukan mata, terkena sinar matahari yang mulai naik.

Semakin lama kapal semakin kencang, membelah ombak yang makin besar bergemulung. Pesisir pulau Jawa makin terlihat samar. Pemandangan yang nampak sekarang hanyalah lautan yang tanpa batas dengan suara angin yang keras. Sesekali terlihat burung camar meluncur ke air menangkap ikan. Ketika luput menyambar ikan, burung-burung tadi kembali lagi mengincar mangsanya dengan pandangan yang lebih awas.

Bagi Samsuri dan anak buahnya yang telah menjadi pelaut sejak remaja, laut telah menjadi teman karibnya. Sebab itu dengan santainya dia mengemudikan kapal menerabas ombak laut besar yang bergemulung. Jauh di sana, di garis cakrawala, nampak perahu-perahu dengan layarnya melebar, baris-berbaris mengikuti larinya angin.

“Nanti mampir di pelabuhan Tanjungpriok isi bahan bakar, ya, dik Bud,” kata Samsuri sambil memandang ke arah depan mengikuti arah kompas. Budianto mengiyakan sambil mengeluarkan rokok, lalu menawarkannya pada atasannya. Samsuri mengambil sebatang dan dinyalakan oleh Budianto.

“Dik Bud, kalau aku cerita kamu pasti tidak percaya..” kata Samsuri yang mulai menghisap rokok lagi.

“Cerita apa, Bos?” Budianto merasa tertarik sambil menyedot rokoknya juga.

“Kalau aku di ruang kemudi sendirian, seringkali melihat 2 anak, laki perempuan, lagi pacaran. Padahal aku tidak merasa pernah punya 2 penumpang itu,” Samsuri meneruskan ceritanya.

“Ah, jangan mengada-ada, bos …!” potong Budianto mengakhiri yang nampak ketakutan. Matanya terlihat jelalatan mencari 2 orang anak mencurigakan yang baru saja dikatakan oleh Samsuri.

“Kau tak percaya? 2 anak itu lagi kasmaran, biasanya berdiri di sana sambil rangkulan mesra. Mereka kalau sudah lelah berdiri di haluan, lantas berlarian di geladak, kejar-kejaran seperti anak kecil, sambil tertawa cekikikan, lalu hilang entah ke mana,” Samsuri bercerita sambil mengambil nafas panjang.

“Yah, serius, Bos! Jangan-jangan 2 anak itu dedemit yang lagi keluyuran di laut?” komentar Budianto sambil melihat sekitar ruang kemudi, mungkin saja anak-anak itu terlihat. Batin Samsuri tertawa melihat gelagat Budianto yang dianggap lucu.

“Kau cari di manapun, 2 anak itu takkan pernah ketemu, dik. Namanya juga bocah aneh. Muncul tiba-tiba, hilang tanpa pamit. Tapi yang jelas, keduanya tidak pernah menganggu,” kata Samsuri sambil menambah kecepatan kapal. Budianto manggut-manggut keheranan. Dirinya tidak mampu menggambarkan bagaimana jika dia sedang memegang kemudi sendirian, lalu 2 orang anak tadi muncul di hadapannya. >> Page 2

loading...