Dua Ronde Dalam Semalam

misteri kodok

Hujan yang turun dari sore baru berhenti di atas jam 9 malam. Kang Wardi pamit pada istrinya untuk berburu kodok. Selang sebentar Kang Wardi menerobos sunyinya malam yang dingin di pematang sawah. Lampu karbit menyorot ke sana ke sini. Kotak demi kotak sawah yang tergenang air ditelusurinya. Satu per satu kodok mengisi keranjangnya.

Tidak terasa Kang Wardi tersenyum sendiri, senang hatinya merasa. Malam itu rejeki terasa nomplok. Belum ada 1 jam, keranjang telah penuh kodok. Karena kegirangan memasukkan kodok ke keranjang, hingga tidak terasa Kang Wardi mendekat ke sebuah rel kereta api. Padahal biasanya dia pantang datang ke tempat itu. Menurut cerita banyak orang, di tempat itu dihuni oleh peri yang suka mengganggu manusia di malam hari. Entah mengapa malam itu Kang Wardi lupa akan pantangannya sendiri.

Dari kejauhan muncul suara berjalan di sepanjang rel ke arah barat. Setelah dekat terdengar tangisan bocah rewel. Kang Wardi menyorotkan lampu karbitnya dan terlihat seorang wanita menggendong bocah berumur 2 tahunan.

“Cup-cup… Sebentar lagi sampai rumah kakek.” wanita itu mencoba menenangkan sambil mengelus kepala anaknya.

Kang Wardi melangkah menuju rel. Setelah berhadapan dengan wanita itu…

“Mas ini Kang Wardi kodok ya?” tanya wanita itu.
“Iya..” jawab Kang Wardi sambil terheran-heran karena wanita itu mengenal namanya dan dia belum pernah bertemu sebelumnya.
“Lha, mbak sendiri siapa? Malam-malam lewat sini.” tanya Kang Wardi.
Wanita itu menjawab, “Mau ke rumah bapak, rumahnya dekat rumah sakit.”
“Lha kok sendirian? Tidak diantar suami?”
“Oalah Kang, tadi saya ribut sama bapaknya anak ini. Saya minta tolong diantar ke sana ya, Kang. Jalannya gelap.”

Akhirnya Kang Wardi menyanggupi permintaan wanita itu. Dirinya mengikuti dari belakang. Lampunya menerangi jalan sepanjang pematang.

loading...

“Dapat kodok banyak ya, Kang?”
“Cukupan. Kok mbak ini tahu namanya saya Wardi kodok?”
“Ya pasti tahu, Kang. Kang Wardi kan sering lewat dekat rumah saya, waktu cari kodok.”
“Lha rumahnya di mana?”
“Dekat rumah sakit itu, lho. Nanti kan juga tahu sendiri. Waktu di rel tadi juga dapat kodok, Kang?”
“Dapat 4. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, mungkin saja itu piaraan bapakku.”

Kang Wardi merasa tidak enak hatinya. Dia baru saja ingat kalau tempat itu angker. Jangan-jangan… “Ahhh..!” batinnya membantah sendiri.

Kang Wardi tetap mengikuti wanita itu, hingga sampai di bawah pohon waru wanita itu berhenti.

“Sudah Kang, sampai sini saja. Terima kasih.” ujar wanita itu.
“Lha, rumah bapaknya di mana?”
“Rumahnya di sini, Kang.” jawab wanita itu sambil terbang melayang menuju dahan pohon waru, tertawa seperti Mak Lampir.

Mengalami hal itu Kang Wardi kontan tersentak, jantungnya terasa copot. Dia lalu berlari ketakutan. Lampu karbitnya terlempar entah ke mana, dia tidak memikirkannya lagi. Sampai di dekat rumah sakit Kang Wardi ambruk. Dia merasa telah berlari puluhan kilo, meski sebenarnya hanya berjarak seratus meter.

Setelah Kang Wardi merasa lebih tenang, dia melihat jam tangannya, pukul 3. Sewaktu bangun dari ambruknya, terdengar suara orang dari arah barat mendekat. Kang Wardi kaget. Namun setelah mengetahuinya, ternyata suara itu berasal dari orang yang memakai caping dan memanggul cangkul. Hati Kang Wardi terasa adem untuk sementara.

“Hmmm… Orang itu mungkin pergi ke sawah.” batin Kang Wardi.

Orang itu lantas mendekat. Perawakannya tinggi besar. Capingnya yang lebar menutupi sorot lampu jalanan hingga mukanya tak terlihat.

“Kamu ada apa dik, di sini?” tanya orang itu.
“Mmm..mmm.. anu.. pak..” jawan Kang Wardi nampak gagap.
“Anu anu apa? Anumu?”

Kang Wardi memperhatikan wajah orang itu, namun hanya gelap dipandang karena tertutup caping.
Hingga akhirnya Kang Wardi menceritakan apa yang baru saja dialaminya hingga dia ditertawakan oleh peri yang bisa terbang.

“He..he..he.. Lihat peri pohon waru tertawa mengapa takut. Apalagi kalau dikejar.” orang tua itu terkekeh.
“Lha.. apa tidak takut. Itu lelembut. Kalau yang tertawa manusia, aku temani dia tertawa.” sahut Kang Wardi nampak jengkel diejek seperti itu.
“Apa mukanya menakutkan, dik?”
“Ya enggak, malah aduhai cakepnya.”
“Lah.. lihat perempuan cakep malah lari. Nanti kalau jelek, bisa-bisa malah ngobrok di tempat, ha..ha..ha..”
“Bapak enggak lihat sendiri. Makanya bisa bilang begitu.” kata Kang Wardi makin jengkel.
Orang itu menyahut, “Kalau aku tidak bakal lari seperti kamu, dik.”
“Sombong benar kau.”
“Aku bukannya sombong. Aku bapaknya peri itu. Apa aku harus takut?”
“Jangan sembarangan ya.” Kang Wardi nampak gusar.
“Ini benar. Peri waru memang anakku. Kamu enggak percaya? Ini mukaku seperti ini.”

Setelah berkata, orang itu membuka capingnya. Wujudnya tidak menakutkan, hanya saja sudah cukup untuk membuat Kang Wardi menjerit dan pingsan seketika. Bruukkkk….. Kepala orang itu nampak bulat seperti bakso tanpa rambut, berwarna putih polos, dan mukanya tidak mempunyai mata, hidung, telinga, serta mulut, meski bisa bicara dan tertawa.

Kang Wardi sadarkan diri setelah langit terang. Sambil tengok kanan dan kiri, dia berjalan tergopoh-gopoh menuju rumah. Ini menjadi pengalaman Kang Wardi yang tak terlupakan. Hingga akhirnya dia merasa kapok mencari kodok lagi di daerah itu, meski kodoknya besar-besar.

loading...