Dendam Kesumat Ronggeng Lastri

Sehabis magrib, Tukijo berpamitan kepada istrinya akan pergi ke rumah Parjo, temannya di Karangbalong. Dia akan membereskan urusan tanah. Saritem, istrinya yang terlihat lugu itu hanya mengiyakan, karena dia telah tahu suaminya memang mempunyai pekerjaan sebagai makelar.

“Aku nanti pulang tengah malam, dari rumah Parjo aku terus ke rumah Pak Diran yang punya tanah.” kata Tukijo pada istrinya.

Ketika suaminya pamit, Saritem masih di dapur memasak makanan untuk dijual besok di pasar. Kalau hanya mengandalkan uang pemberian suaminya tidak pernah pasti. Apalagi harus memelihara kedua anaknya. Kebun sepetak dan rumah gubuk sudah menjadi keluarga yang harus dirawat, entah sampai kapan.

Walau sering mendengar kabar jika suaminya sering mampir ke tempat selingkuhannya si Surti, Saritem hanya diam saja. Biarlah, asal suaminya masih mau pulang ke rumah dan masih merasa mempunyai istri dan anak. Mengingat dulu ketika dijodohkan oleh orang tuanya, sebenarnya Saritem tidak berminat. Oleh karena kondisi yang terjepit, dia merasa sebagai perawan tua dan kebetulan orang tuanya sedang terlilit hutang pada orangtua Tukijo. Saritem hanya mampu pasrah.

legenda nyi ronggeng

Malam itu Tukijo membohongi Saritem lagi. Dia tidak pergi ke rumah Parjo, melainkan bablas ke rumah Karso yang sedang mempunyai hajat dan menanggap tayub.

“Ini jam berapa ya, kang?” tanya Karsih yang berada di sebelah Tukijo, yang ditanya melirik arlojinya.
“Sembilan seperempat.” jawab Tukijo.
“Lantas acara hiburannya kapan? Dari tadi pidato terus.”

Malam itu Tukijo ngibing bersama dengan pasangannya Karsih. Tukijo sebentar-sebentar menyolek pipi Karsih. Sementara itu yang dicolek malah tersenyum senang sambil menggoyangkan pantatnya, makin merangsang Tukijo. Tukijo tidak merasa telah berkali-kali menyelipkan uang ke dada Karsih.

Karsih tak hanya jadi pasangan ngibing, tapi juga pasangan di kamar. Setelah ngamar dengan Karsih, Tukijo jadi lupa akan selingkuhannya Surti si kembang bordil. Namun esoknya, desa Sidodadi tempat Karsih tinggal digegerkan oleh kabar tewasnya Tukijo. Pria ini ditemukan tewas di kamar Karsih dengan leher gosong. Pada lehernya juga terdapat bekas cakaran kuku. Menurut keterangan Karsih kepada polisi, sewaktu Tukijo tidur, tiba-tiba nafasnya tersendat mirip ayam disembelih, kemudian tewas seketika. Untuk sementara ini polisi percaya akan keterangan Karsih.

Kabar kematian Tukijo menjadi gosip santer di beberapa desa. Ada yang menduga bahwa Tukijo terkena santet. Ada pula yang menduga jika Tukijo kualat dengan istrinya. Selang 2 bulan dari kejadian itu, di desa Sekarsari ada yang menanggap tayub. Lurah desa itu telah berujar, jika anaknya sembuh dari penyakit, maka akan mengadakan acara tayuban. Siapa lagi bintangnya jika bukan Karsih.

Kira-kira jam sepuluh malam, acara tayuban dimulai. Kali ini Karsih berpasangan dengan Jagaraba. Sama halnya dengan Tukijo, kali inipun jagaraba tidur dengan Karsih dan kejadian 2 bulan yang lalu terulang kembali. Jagaraba tewas mengenaskan.

loading...

Polisi belum juga mampu mengungkap dan membuktikan jika Karsih yang membunuhnya. Menurut visum dokter mereka meinggal karena sesak nafas. Namun berbeda pendapat dengan Darwanto, seorang paranormal. Menurut dia, ada hal lain yang tidak mampu dijelaskan dengan nalar. Maka itu Darwanto berniat ingin berpasangan dengan Karsih sewaktu ada acara tayub.

Selang 3 bulan kemudian, akhirnya keinginan Darwanto terkabul. Juragan sapi Samino punya hajat perkawinan anaknya dan memanggil tayub dari Sragen. Ketika Darwanto masuk ke dalam kalangan, dia memilih berpasangan dengan Karsih. Banyak yang heran karena Darwanto adalah orang yang alim dan lugu. Mengapa malam itu dia ikut berkiprah dalam acara ngibing.

Bagi Karsih, pria pasangannya ini tidak mengecewakan ketika diajak ngibing. Tidak haya menari, tetapi juga mengikuti irama. Karsih semakin senang. Darwanto yang umurnya baru 40 tahun itu sebentar-sebentar menyelipkan uang ke dada Karsih.

Ketika Darwanto ingin mengantar pulang, Karsih tak menolak. Mereka berjalan melewati jalan gelap dan merasa nikmat. Jika lewat jalan berbatu, Karsih memegang pinggul Darwanto di boncengan. Sewaktu melewati kuburan Cangkringan, Karsih kembali merangkul pinggul Darwanto dengan rasa yang aneh. Darwanto tersentak, dia merasa kuku wanita ronggeng itu menjadi panjang dan mencengkeram perutnya. Darwanto kemudian menepis tangan Karsih, yang ditepis merasa tersinggung. Mata Karsih yang terkena sinar rembulan nampak melotot seperti kerasukan.

“Mas Dar, jangan main kasar!” bentak Karsih.
“Aku juga enggak senang mengasar perempuan. Tapi aku merasa kamu berubah jadi wanita iblis.”

Karsih justru tertawa, rambut yang sebelumnya disanggul kini diurai. Jaket yang menutupi badannya yang halus itu dilemparkan ke muka Darwanto.

Sembari berkata, “Semua lelaki sama. Kalau lihat wanita cantik, pasti jadi anjing belang. Malam ini kamu harus mati, Darwanto!”
“Ingat Krasih! Sadar!” seru Darwanto sambil mundur.
“Namaku bukan Karsih. Namaku Lastri, ronggeng yang jadi korban lelaki. Setelah Tukijo dan Jagaraba mati, sekarang kamu harus mati!”

Karsih lalu menubruk, menyakar, dan melempari batu. Menghadapi ini, Darwanto jadi kerepotan. Darwanto hanya berniat meringkus tanpa menyakiti.

“Hei, wong ayu, coba kau bilang siapa lelaki yang menyakitimu?”

Karsih lalu tak bergerak. Dia nampak teringat zaman-zaman yang telah lewat.

“Ronggeng Lastri lebih baik mati daripada selamanya menanggung malu. Laki-laki bajingan! Tukijo dan Jagaraba memperkosaku di tengah sawah sana. Sekarang kalau kamu macam-macam, kamu akan menyusul arwah 2 orang yang masih keluyuran itu.” kata ronggeng Lastri.

Darwanto merasa bahwa Karsih kerasukan oleh arwah Lastri. Ronggeng Lastri adalah salah satu ronggeng terkenal yang telah meninggal dan dimakamkan di kuburan Cangkringan. Darwanto kemudian ingat bahwa sekitar setengah tahun yang lalu, ronggeng Lastri yang berasal dari Banyumas, ikut dengan saudaranya di Kebak kramat. Suatu hari, si Lastri ditemukan tewas di tengah sawah tidak jauh dari tempat itu. Mayatnya telanjang bulat dan terlihat seperti habis membela diri dari cengkeraman manusia iblis. Bahkan ditemukan pula belati yang tertancap di dadanya.

“Dendammu sudah terbalas, sekarang pergilah ke tempat yang tenang.” kata Darwanto sambil mengacungkan keris ke atas kepala Karsih yang kemudian ambruk tanpa daya.

Saat Karsih terbangun, Darwanto baru saja ambruk karena kelelahan. Karsih yang bingung bertanya-tanya, mengapa keduanya tidur di jalan dekat dengan kuburan?

“Mas, bangun.. daripada tidur di sini, tidur di rumahku saja.” ujar Karsih sambil menggoda Darwanto.

Darwanto akhirnya mengantar Karsih pulang. Apa yang dipikirkannya sekarang adalah jika Karsih menjadi istrinya, menggantikan istrinya Darsih yang meninggal sewaktu melahirkan anak pertamanya. Benarkah pilihan Darwanto tersebut?

loading...