Bocah Bajang Menuntut Balas

Sudah tiga hari ini Suyati hanya tergolek lemas di tempat tidurnya. Badannya terasa sakit dan lesu. Suyono suaminya sudah berusaha agar istrinya yang hamil sembilan bulan itu bisa melahirkan dengan selamat. Namun, Tuhan belum memberikan pertolongan juga. Mbok Suli yang sudah sering mengurusi orang melahirkan di desa itu juga merasa kewalahan. Dia tidak tahu mengapa Suyati sampai seperti itu, padahal biasanya Mbok Suli tidak pernah mendapatkan halangan.

Walau begitu, Suyati tidak dibawa ke rumah sakit bersalin. Suyono dan Suyati memang orang kecil yang serba pas-pasan. Apalagi di masa pemerintahan yang baru ini, harga-harga makin naik saja. Kadang-kadang Suyati merintih, meminta tolong dengan nafas yang putus-putus memelas. Saudara yang melihatnya tidak tega dan menangis, namun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Emaknya Suyati selalu di sampingnya mengelus-elus pipi dan rambut anak bungsunya itu. Emaknya yang sudah tua kasihan, dulu ketika masih muda dirinya tidak pernah mengalami hal semacam ini, mengapa anaknya sekarang seperti itu. Tadi malam Suyati diberi minum air putih oleh Mbah Joyo agar kondisinya membaik. Namun hal ini hanya berlangsung sebentar saja, setelahnya, Suyati merasa sakit lagi seperti kondisi sebelumnya.

bocah bajang menuntut balas

“Aku enggak kuat…tolong…” rintih Suyati memelas.
“Sabar ya, ndhuk…lagi dicarikan obat.” emaknya mencoba menenangkan.

Kakak Suyono, Sumarko yang sedang duduk di teras teringat sesuatu dan mendekati Suyono.

“Yon, aku ingat ada orang yang mungkin bisa dimintai pertolongan.”
“Siapa, kang?”
“Mbah Tomi, yang pernah menolong temanku waktu kena gangguan. Mungkin ada sesuatu tidak wajar.”
“Aku nurut saja, kang. Mungkin masalah ini bisa cepat selesai.”
“Kamu di rumah saja. Aku mau ke sana.”

Sumarko kemudian pergi ke rumah Mbah Tomi. Apa yang diinginkan tidak luput. Mabh Tomi yang jarak rumahnya 5 km dari desa itu kebetulan sedang ada di rumah. Sumarko tidak peduli lelah, yang penting keinginannya terkabul dan mbah Tomi diajak saat itu pula.

Setelah semua syarat terpenuhi, Mbah Tomi melihat keadaan Suyati. Entah apa yang diucapkan oleh Mbah Tomi, bibirnya seperti komat-kamit. orang-orang tidak ada yang tahu. Sepertinya ada rahasia yang membuat raut muka Mbah Tomi menjadi kencang. Kemudian Mbah Tomi menyuruh orang-orang yang berada di kamar untuk keluar, kecuali Suyono.

Mbah Tomi lalu berkata dengan pelan.

“Nak Yati, kamu ada yang mengganggu, tapi sebenarnya tidak susah.”
“Bagaimana Mbah?” tanya Suyono, namun Mbah Tomi hanya diam.
“Aku mau tanya, nak Yati!”

Suyati mengangguk pelan.

“Hmm.. Apa kamu pernah miskram?”

Suyati hanya diam dan belum mengerti maksud pertanyaan itu.

“Nak Yati, apa.. pernah mengeluarkan janin?”

Suyati kaget, lalu membuang pandangan. Suyono juga merasa kaget dan merasa diejek oleh Mbah Tomi, karena Suyati istrinya yang dicintai selalu setia kepadanya. Menurut pengakuan Suyati dahulu, dia mengaku kalau masih perawan. Suyono menjadi bingung karena baru kali ini Suyati hamil. Namun, Suyono masih berusaha untuk menyembunyikan ganjalan di hatinya. Apalagi Mbah Tomi juga telah jauh-jauh datang ke sini.

loading...

“Kamu harus jawab nak Suyati. Ini berhubungan dengan sakitmu.” kata Mbah Tomi.

Suyati teringat apa yang dialami. Memang benar, Suyati dulu pernah berbuat nista, berhubungan dengan seorang pria yang dicintainya walau belum jadi suaminya. Untuk meninggalkan jejak, Suyati menggugurkan kandungannya. Kejadian itu diulanginya dua kali oleh karena Suyati bunting lagi. Pria yang menjadi jantung hati ternyata pergi meninggalkannya. Sampai beberapa lama, Suyati mendapatkan kenalan baru yaitu Suyono. Suyati merasa selamat bisa menyembunyikan rahasia dari Suyono, dan Suyono sampai sekarang juga masih setia. Sekarang Mbah Tomi menanyakan perkara lama di depan suaminya. Akan ditaruh di manakah muka Suyati? Suyati merasa bingung, malu, jengkel sambil menahan sakit.

“Nak… jawab. Aku tunggu.” kata Mbah Tomi sekali lagi.

Suyati yang bingung menjadi makin tertekan dan menjerit, “Tidak….”
“Mbah.. sudah Mbah!” Suyono mengingatkan Mbah Tomi.
“Sekarang, kamu berdua suami istri, dengar! Kalau Suyati tidak mau mengaku, aku tidak sanggup menolong.”
“Lantas Mbah… Istriku jujur Mbah.” jawab Suyono.
“Percaya atau tidak. Nak Yati belum bisa melahirkan karena ada dua bocah bajang yang menghalangi jalan keluar bayi.”
“Kok bisa, Mbah?” tanya Suyono nampak tak percaya.
“Keduanya tidak terima selama ini nasibnya ditelantarkan dan tidak terima jika adiknya lahir. Sekarang, nak Yati, apa kamu masih mau menyangkal?!” ujar Mbah Tomi tegas menantang.

Suyati merasa jatidirinya hilang, belum siap menerima kenyataan ini. Hatinya malu untuk mengakui.

“Ya sudah. kalau nak Yati tidak mau mengaku, aku mau pulang.”
“Sebentar Mbah!” cegah Suyono.
“Yati… kamu sudah dengar apa kata Mbah Tomi. Kamu jangan berpikir yang sudah lewat. Pikir bayimu, pikir anakmu, anakku, Yati! Jabang bayi ini anak kita. Apa kamu mau sengsara?”

Suyati lalu memandang tajam ke arah Suyono. Dia tidak percaya jawaban suaminya itu. Namun rasa lega, malu, dan bingung bercampur jadi satu. Suyono memandang Suyati dengan penuh harapan, juga menaruh belas kasihan pada Suyati walau hatinya seperti dicambuk.

Kemudian Suyati membuang pandangan. Air matanya menetes. Suyati lalu berkata pada Mbah Tomi.

“I..ii..iya.. mbah. Saya kapok. Saya minta maaf.”

Setelah berkata demikian, suyati menutup muka dan menghabiskan tangisnya. Suyono lalu berunding dengan Mbah Tomi, bagaimana selanjutnya. Kuburan orok itu lantas dibongkar oleh Mbah Tomi dan diperlakukan dengan semestinya. Kedua bocah bajang itu dinamai Lesmana dan Lesmini oleh Mbah Tomi. Tak lama kemudian, bayi yang dikandung Suyati akhirnya lahir, seorang bocah laki-laki, dengan selamat tanpa ada gangguan lagi.

loading...

1 Star2 Star3 Star4 Star5 Star (No Ratings Yet)
Loading...