Cangkul Gentayangan

Pagi itu ketika Kasman ingin menggarap tegalan, dia teringat bahwa cangkulnya masih di rumahnya Parji. Kemarin selesai kerja bakti, Kasman mampir ke rumah Parji untuk minum es dawet. Kebetulan pula Parji mengajak ngobrol sampai Kasman lupa dengan cangkulnya.

Tanpa pamit istrinya, Kasman bergegas mengeluarkan sepedanya. Sepeda yang dinaikinya digenjot sekuatnya. Karena tergesa-gesa, ketika melewati pertigaan hampir saja menabrak sepeda lain yang sedang menyeberang.

“Weh….weh..! Kok cepat-cepat apa sudah tidak sabar mau melayat Parji, Man?” tanya orang yang hampir saja ditabrak Kasman.
“Layat Parji?” Kasman bertanya balik.

Kasman yang berniat menggenjot sepeda mengurungkan niatnya. Sekarang sepeda malah dituntun pelan-pelan bersama Pak Jamin, orang yang hampir ditabraknya.

cangkul gentayangan

“Apa Parji sudah mati?” tanya Kasman.
“Lho, kamu belum dengar? Aku tadi dengar dari ibunya si Peyang, dia tahu dari tetangganya Parji waktu jualan lombok di pasar.”
“Innalillahi!! Aku memang mau ke sana ambil cangkul.” sambung Kasman.
“Ya sekarang sekalian ta’ziyah, Man.”

Sampai rumah Parji, suasana telah ramai. Orang-orang yang kemarin bekerja bakti sekarang membantu keluarga Parji. Dari teman-temannya, Kasman mengetahui jika Parji merasa badannya sakit. Jam 2 pagi tubuhnya panas dan akhirnya meninggal. Kasman sudah tidak ingat lagi ingin mengambil cangkulnya. Dia ikut membantu membelah kayu di dapur. Setelah itu dia ikut membawa jenazah ke kuburan.

Malam itu tubuh Kasman hanya tinggal lelahnya. Mulai sore menggeletak di tempat tidur. Istrinya yang mengajak nonton TV di rumah tentangganya tidak digubris. Tak lama diapun tertidur pulas. Saat sedang enak-enak tidur, istrinya membangunkan dia.

loading...

“Kang, bangun kang! Masih sore sudah tidur.” kata Yu Jinten, istri Kasman.
“Aku capek mbok, dari tadi siang ngurus layat.”
“Ya maaf kang. Aku mau nanya sebentar, aku tadi siang mau ke kebun, tapi cangkulnya ke mana?”
“Waduh.. aku lupa lagi. Tadi pulang dari kuburan aku sudah niat mengambil cangkulku di rumah Parji. Tapi lupa!”
“Jadi, cangkulnya masih ketinggalan di sana?”
“Iya, mulai dari kerja bakti kemarin.”
“Ya sudah, besok saja.”

READ  Diantara Gemulung Ombak

Malam semakin larut. Yu Jinten sudah tertidur pula. Hanya Kasman yang berubah jadi tidak mengantuk. Dia melamun sambil menyulut rokok klobot. Terdengar suara kentongan di gardu pos yang dipukul dua belas kali.

“Kang Kasman. Keluar sebentar kang. Aku ada perlu.”

Tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari luar rumah.

“Siapa ya?” tanya Kasman menuju pintu.
“Aku kang, temanmu.” jawab orang di luar.
“Lha iya, siapa?”
“Nanti kamu juga tahu sendiri.”

Karena penasaran, Kasman mengambil linggis. Dia khawatir jika orang di luar punya niat buruk. Ketika pintu dibuka, di luar hanya sepi. Kasman menoleh ke kanan dan kiri namun tidak ada orang. Ketika Kasman ingin balik masuk rumah terdengar suara lagi.

“Jangan masuk dulu kang!” suara itu terdengar begitu jelas di belakangnya.

Kasman menoleh, yang nampak di matanya kini ternyata wujud putih dan di atas kepala terdapat ikatan pocong. Anehnya, di pundaknya terdapat cangkul yang menempel. Kasman yang belum pernah bertemu pocong bergetar kakinya.

“Ini aku kembalikan cangkulmu, kang!” kata pocong itu.

Cangkul di pundak pocong itu tiba-tiba melayang sendiri dan turun pelan-pelan di samping Kasman. Kasman hanya diam membisu. Ingin dia pejamkam mata namun terasa mengganjal. Ingin dia lari tapi kakinya terasa berat diangkat.

“Sudah ya, kang. Terima kasih sudah membantu keluargaku tadi siang.”

Pocong itu lalu berloncatan meninggalkan Kasman. Setelah tujuh kali meloncat, pocong itupun menghilang.

Tanpa menggubris cangkulnya, Kasman berlari masuk ke rumah. Pintu tidak dikuncinya karena tergesa-gesa. Dia menuju ke tempat tidur dan menutupi sekujur tubuhnya dengan sarung. Sampai pagi Kasman tidak bisa tidur. Hanya mampu pejamkan mata tapi tidak tidur. Kasman baru berani sewaktu istrinya memanggil dari luar rumah bahwa cangkulnya tergeletak di luar. Kasman tidak mau bercerita tentang kejadian malam itu. Istrinya sendiri ingin mengetahui, mengapa cangkulnya ada di luar rumah tapi Kasman tidak pernah menjawab yang sebenarnya.

loading...


Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *