Hukuman Pak Lurah Tikungan Asem

Tikungan asem, begitulah orang menyebutnya. Pohon asem itu terlihat seperti akan roboh tapi condongnya bukan ke arah jalan melainkan membelakanginya. Kata orang-orang di situ, tempat itu angker. Banyak orang yang percaya ada penunggu di pohon itu. Maka sudah tersebar peringatan, siapa saja yang melewati tikungan ini menaiki alat transportasi harus membunyikan bel.

Banyak cerita tentang keangkeran pohon asem itu. Banyak orang naik sepeda motor dan mengalami kecelakaan. Suatu malam, ada pula orang yang pernah naik sepeda dan tidak membunyikan bel. Sampai depan pohon asem, orang itu diguyur air dari atas pohon sampai basah kuyup dan berbau pesing.

Beda dengan cerita yang dialami oleh Pak Hadi, guru SMA yang setiap hari pergi dan pulang sekolah lewat tempat itu. Siang hari sewaktu pulang dari sekolah, Pak Hadi pulang dengan tergesa-gesa. Sepeda motornya digeber kencang sekali. Kebetulan memang nasib sedang apes, sewaktu menikung Pak Hadi yang akan mengurangi persneleng melihat seorang wanita sedang menyeberang. Pak Hadi kaget dan tidak sempat mengerem. Hingga sepeda motor akhirnya terguling.

tikungan angker
Pak Hadi yang mengalami lecet-lecet di badan segera bangun. Setelah itu Pak Hadi mencari-cari wanita itu, tapi yang dicari tidak terlihat. Pak Hadi menjadi merinding. Dia baru teringat kalau tadi tidak membunyikan klakson.

Malam sekitar pukul 9, hujan gerimis dari sore belum berhenti. Suasana desa Pak Hadi dilanda sepi. Hawa dingin membuat orang ingin tidur. Namun, Pak Hadi belum merasa mengantuk, sedangkan istri Pak Hadi sudah tidur sedari tadi.

“Tok…tok…tok…!!”

Suara pintu rumah Pak Hadi diketuk. Siapa malam-malam begini bertamu? Batin Pak Hadi sambil bangkit dari kursinya. Pintu dibuka, di luar terdapat 3 orang pria sambil membawa obor.

“Siapa ya?” tanya Pak Hadi.
“Saya, Pak. Saya disuruh Pak Lurah menjemput Pak Hadi. Bapak dipanggil Pak Lurah.” begitu kata salah seorang diantara mereka.
“Ada perlu apa malam-malam? Tidak nunggu besok pagi?”
“Kata Pak Lurah, Bapak punya kesalahan. Maka itu Bapak harus bertanggung jawab. Mari saya antar ke tempat Pak Lurah sebelum kemalaman.”

Pak Hadi seperti terkena gendam, dia lalu mengikuti ketiga orang itu. Tidak sampai 5 menit orang-orang tadi berhenti di depan rumah besar dengan lampu terang benderang.

“Ini rumah siapa?” tanya Pak Hadi tanpa sadar.
“Ini rumah Pak Lurah. Langsung masuk saja, Pak.”

Keempatnya lalu memasuki rumah itu. Sampai di dalam rumah, ketiga orang yang mengantar itu keluar lagi, hanya Pak Hadi yang sendirian di ruang tamu. Pak Hadi melihat ketiga orang itu menghilang ketika mereka sampai di jalan depan rumah. Ketiganya seperti tersapu kabut malam.

loading...

“Hei, Pak Hadi!!!”

READ  Bocah Bajang Menuntut Balas

Suara gertakan itu membuat kaget Pak Hadi. Di dekat Pak Hadi sudah ada orang tinggi besar bercambang bawuk dengan mata melotot.

“Kamu memang kurangajar! Sudah tua naik motor kencang-kencang mirip anak muda, lantas nabrak anakku tanpa tanggung jawab!”

Pak Hadi tidak dapat berkata apa-apa. Mulutnya terasa seperti disumpal.

“Apa? Mau mungkir? Siang tadi kamu nabrak anakku di tikungan asem, ya kan?! Sekarang sebagai hukuman, kamu harus memijat anakku yang kakinya bengkak! Kalau tidak mau, kaki istrimu akan kupotong!”

Pak Hadi tidak kuasa menolak, tanpa sadar dirinya hanya manggut-manggut.

“Ayo sekarang aku antar ke kamar anakku!”

Pak Hadi tanpa sadar hanya mengikutinya. Orang tinggi besar bercambang bawuk itu lalu membuka kamar. Ada seorang wanita muda tergolek lemah di kamar itu.

“Sudah sana, pijat anakku!! Aku mau pergi dulu.”

Orang itupun lantas pergi meninggalkan rumah.

“Pak Hadi, maaf ya Pak. Saya tadi minta Bapak mencari Pak Hadi. Soalnya tadi siang Pak Hadi nabrak saya sampai kaki saya bengkak. Pak Hadi harus mengobati saya, memijat saya.” begitu kata perawan ayu tersebut.
“Iya dik. Aku memang harus dihukum memijat kakimu.”
“Jangan panggil saya dik, panggil saja saya Nasiti.”

Nasiti lalu membuka pakaiannya dan hanya memakai pakaian dalam. Pak Hadi kaget, wajahnya terlihat malu.

“Mari Pak. Pijat saya. Ini kaki yang kiri bengkak biru.”

Pak Hadi melihat kaki kiri Nasiti memang bengkak kebiruan. Pak Hadi lalu mulai memijat dari betis dan meremat-remat.

“Terus Pak Hadi! Jangan pijat di situ saja, naik ke atas!” perintah Nasiti sambil merintih.

Pak Hadi memejamkan mata sambil memijat-mijat, dan tanpa memandang lagi siapa yang dipijat. Tiba-tiba sesuatu mementalkan tubuh Pak Hadi hingga terjungkal.

“Pak Hadi, nyebut Pak!” banyak suara di sekitar Pak Hadi.
“Pak..Pak..punya salah apa kok dihukum Lurah Asem?” tanya istrinya dengan menangis.
“Dibawa pulang saja.” kata Pak Bayan yang ikut mencari Pak Hadi.

Sekitar jam sebelas tadi istri Pak Hadi khawatir dan bingung mencari Pak Hadi lalu menggedor pintu rumah Pak Bayan. Pak Bayan juga terpaksa membangunkan tetangga yang lain untuk membantu mencari Pak Hadi. Hingga lama setelah mencari ke seluruh desa, akhirnya diusulkan untuk mencari Pak Hadi di Tikungan Asem. Ternyata benar, Pak Hadi sedang memijat pohon asem itu dengan mata terpejam tanpa sadar.

“Aku dihukum Pak Lurah!” kata Pak Hadi tanpa sadar.

Nampak dari kejauhan terdengar samar-samar suara speaker masjid, tanda sebentar lagi akan dikumandangkan adzan shubuh.

loading...


Related Posts: