Kabut Tebal Taman Sari

macan loreng

Seperti biasa, setelah subuh Mang Yuda menyiapkan dokar dan kudanya. Walaupun angkot sudah banyak, angkutan tradisional semacam itu masih menjadi transportasi vital di daerah Gunung Batu Cimahi. Orang Sunda menyebutnya dengan keretek.

Pagi itu kabut masih menutupi pemandangan, jalan terlihat remang-remang karena tebalnya kabut. Meski ini tidak begitu menghalangi niatnya untuk menarik dokar. Dia tetap berangkat menuju pangkalan di perempatan jalan Gunung Batu. Sampai di perjalanan, dia bertemu temannya yang juga kusir dokar yang meneriakinya.

“Mang, cepat ke pangkalan, di sana tidak ada dokar!”
“Ya!” jawab Mang Yuda sambil mencambuk kudanya.

Sesampainya di sana, memang tidak ada satu dokarpun. Mang Yuda mengeluarkan rokok, lalu menyulutnya. Baru beberapa sedotan sudah ada sepasang muda-mudi mendekat.

“Taman Sari berapa, Pak?” tanya pemuda tampan itu.
“Taman Sari ITB, ya Den?”
“Iya.”
“ITB jauh banget dari sini. Mengapa tidak naik angkot?”
“Saya kepingin santai, Pak. Berapa angkotnya?”
“Saya jadi bingung, Den. Biasanya kalau ke Babakan sana 2000. Taman Sari itu kan 10 kali lipatnya.” kata Mang Yuda.

“Jadi ongkosnya 10 kali lipat, ya Pak?”
“Iya, Den.”
“Ya sudah. Ayo berangkat.” kata pemuda itu sambil menggandeng tangan pemudi temannya itu.

“Mau lewat mana, Den?”
“Pasteur, Pak.”

Mang Yuda lalu mencambuk kudanya, kabut masih menutupi jalanan, lampu yang dipasang di kanan kiri dokar bergoyang terkena angin.

“Kuliah di ITB, ya Den?”
“Ya, Pak.”
“Syukur Den, bisa sekolah tinggi, semoga anak-anak yang sekolah tinggi juga bisa menganggkat derajat nusa bangsa. Kalau saya ini hanya bisa jadi sopir kuda.” kata Mang Yuda.

“Asli sini, Den?”
“Ya, Pak. Bapak sudah lama jadi kusir dokar?” tanya pemuda itu.
“Woo.. sejak dari bujangan sampai sekarang, sudah kepala 6.”

Ketika dokar memasuki Taman Sari, kabut semakin tebal. Samar-samar terdengar suara auman macan, lalu..kabut menghilang, jalan menjadi terang dan pemandangan menjadi tidak seperti sebelumnya. Jalan Taman Sari yang ramai dan padat rumah berubah menjadi taman yang indah. Di sebelah kiri ada sungai yang airnya jernih. Mang Yuda tidak sadar bahwa dirinya telah masuk ke alam tak kasat mata. Kudanya meringkik gelisah.

“Belok kiri, Pak.”
“Ini taman apa, Den?” tanya Mang Yuda.
“Ini Taman Sari yang asli, Pak. Taman Ratu Pajajaran, Prabu Siliwangi.”

Setelah dokar melewati pinggir sungai, pemuda itu berkata kepada Mang Yuda.

“Berhenti dulu, Pak. Saya dan Putri Nawang Sari akan menghadap Rama Prabu. Bapak tunggu di sini, nanti ongkosnya saya tambah.”
“Iya Den.” Mang Yuda hanya mengiyakan seperti terhipnotis.

Muda-mudi itu lalu turun dari dokar, Mang Yuda terkejut tatkala tahu keduanya telah berganti pakaian dengan busana keraton. Muda-mudi itu bergandengan melewati pinggir sungai. Seketika Mang Yuda kaget lagi ketika muda-mudi itu berubah menjadi macan loreng.

“Astagfirullah…”, ucap Mang Yuda.

Setelah membaca istigfar, dia mendengar auman macan, dan byar… pemandangan kembali seperti semula. Kabul tebal masih menutupi jalan. Mang Yuda walau merinding telah menghadapi apa yang dialaminya. Matanya memandang rumah para penduduk Taman Sari.

“Gusti, kalau benar ini Taman Ratu Pajajaran, saya menghaturkan terima kasih. karena saya yang sudah tua ini masih bisa melihat kejayaan Pajajaran.” ucap Mang Yuda.

Setelah itu dia menoleh ke belakang, dia melihat di tempat duduk bekas muda-mudi itu terdapat uang 3 lembar puluhan ribu.

“Alhamdulillah..”

Sebelum meninggalkan tempat itu, Mang Yuda berkata, “Putra-putri Pajajaran, kalau di Priangan ada kabut tebal lagi, saya akan mampir ke sini, seumpama kalian ingin pulang kembali ke Gunung Batu.”

loading...


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *